Minggu, 22 November 2015

Cerpen Tentang Hacker


Read Me, Please!
Karya : Hendra Dea Arifin

Para pelacak sibuk.
“Dia mengubah lokasi setiap satu menit, susah untuk dilacak.”
“Terus cari! Temukan Dia!” Mereka terus sibuk mencari mafia besar itu.
Lima menit berlalu, ke-sepuluh jari mereka terus beradu, mengetikkan script.
“Bingo!” Salah satu dari mereka berseru, membuat kesembilan pelacak lainnya menoleh  memasang wajah-wajah ingin tahu.
“Dia mengubah lokasinya setiap satu menit, namun terlihat jelas polanya.”
Theo -pimpinan mereka- mendekat ke arahnya, berdiri di belakang kursi, menatap ke layar monitor.
“California, Jakarta, Cansas, Nevada, Texas, Sydney, New York-”
Exactly, perpindahan polanya terlihat jelas, seperti topologi bintang, memusat.”
“Jakarta.”
“Perbesar mapnya, cari alamat spesifiknya.”
Night Coffee Bar, Jalan Majapahit, tepat di depan Rumah Sakit.”
“Kau! Suruh anak buahmu menangkapnya, cepatlah! BERGEGAS!” Theo menyuruh petugas lain setelah menyebutkan alamat lengkapnya. Begitu tegas.
Sial. Lihatlah, mereka berhasil menemukan posisiku, jarak mereka sangat dekat.
“Jangan bergerak!” Aku kaget setengah mati, mereka menemukan posisiku. Belum sempat aku keluar dari bar, aku kalah cepat. Empat detik tidak cukup bagiku untuk kabur dari pandangan mereka. Hari yang sangat buruk. Mereka menangkapku, membawaku.
Setidaknya aku bisa merasa lebih aman, aku telah menghapus seluruh script history yang telah aku gunakan, semua aktivitas dan identitas di dalam laptopku. Enter. Script otomatis yang sudah aku siapkan sebelumnya langsung bekerja cepat melakukannya. Aku angkat tangan, diborgol, dibawa ke markas kepolisian pusat, Jakarta. Lima menit berlalu.
Aku menyumpahi dan mengutuk kasar kejadian itu. Aku terlalu asyik dan terlarut meretas data server kepolisian indonesia, sibuk mencari nama saudariku.
“Sebutkan namamu!”
Aku terdiam, duduk di depan Madam. Interogasi. Saat itu aku sangat menyesal. Night Coffee Bar bukanlah tempat yang tepat. Dan aku telah melakukan kesalahan besar. Aku membawa masuk identitasku ke dalam server kepolisian indonesia. Intranet yang digunakan bukan seperti jaringan yang biasa. Identitas dan akun tidak dapat disembunyikan. Aku salah mempertimbangkannya, tidak memikirkan risiko yang lebih besar. Aku terlalu bersemangat untuk membebaskan saudariku, menghapus jejak bukti.
Mealymouthed? Bisu?” Madam berucap lagi.
Ya. Bisa dibilang aku adalah orang yang Mealymouthed (tidak suka berbicara), aku merasa tidak ada di dunia nyata. Dikucilkan, tapi aku adalah orang yang cerewet di dunia maya. Dunia maya adalah duniaku. Sedikit pun aku tidak bernafsu untuk berbicara saat ini.
“Med. Med Angel.” Aku menatap wajah Madam lamat-lamat, menjawab pelan.
“MED? Master of Education? Nama yang bagus, sejak kapan kau menjadi hacker, Med?”
Aku tidak mempedulikan kepanjangan atau arti dari namaku. “Aku hanyalah seorang Script kiddie, amatiran.”
“Dan kau sudah bisa meratas server BND di Jerman? Atau bahkan INTERPOL? CIA? FBI?”
Sial, mereka mengetahui semuanya, mereka telah merekam seluruh jejak identitasku sepuluh tahun silam, bahkan semenjak aku berada di Jerman. Semenjak aku keliling dunia.
“Kau adalah rajanya hacker, Med. Kau adalah mafia besar dunia maya. Buronan kelas kakap, banyak negara yang mencarimu, ingin memusnahkanmu. Tapi mereka gagal.”
Aku terdiam, menundukkan kepala. Menghadap ke arah sebuah gelas berisi air putih di meja.
“Server facebook, google, semua sosmed, bank, akun presiden, bahkan data kepolisian ataupun militer yang berada di dalam intranet, sangat rahasia, semua bisa kau retas dengan sangat mudah.” Madam lanjut berbicara. Baiklah.
“Orang-orang beranggapan bahwa akun mereka aman, sistem yang mereka gunakan aman, mereka semua tidak mengetahui, tidak ada sistem yang aman.” Aku berbicara. Memegang gelas, kuputar dengan dua jari tanganku. Menatapnya lamat-lamat. Santai.
“Kau lebih pandai daripada seorang black hat profesional, Med. Banyak hacker di luar sana yang hanya bisa menyentuh ranting pohon, kesulitan memanjat, itu pun diketahui pemiliknya, tapi kau, kau bisa memetik buahnya, bisa berdiri santai di atas pohon, bahkan kau bisa mencabut sampai ke akar, tanpa sang pemilik mengetahuinya. Tanpa jejak.” Madam mendekat ke arahku, melemparkan pelan lembaran-lembaran catatan cybercrime dunia.
“Kau tahu, Med, seluruh polisi dunia kesulitan mencari pelaku atas semua kejahatan ini, dan kali ini, kami bisa menangkapmu, kaulah orangnya. Kau sungguh luar biasa, Med!”
Aku menundukkan kepala, menilik lembaran-lembaran itu.
Serangan pada beberapa situs web komersil bertrafik tinggi, kerusakan ekonomi yang mencapai 7,5 juta hingga 1,2 milyar dollar. Penciptaan virus e-mail, menginfeksi dan melumpuhkan lebih dari 50 juta komputer dan jaringan, menyerang komputer-komputer milik Pentagon, CIA, dan organisasi-organisasi besar lainnya. Pemalsuan kartu kredit di Eropa Timur, produksi masal, debet palsu, penghasilan mencapai 100.000 dollar per hari. Penipuan terhadap lembaga-lembaga keuangan di Seattle, Los Angeles, dan Texas. Pencurian database 50.000 kartu kredit. Aku melihat beberapa lembar, menggesernya satu-satu.
 “Itu fitnah.” Aku membalasnya, memandang dengan wajah protes.
“Identitas yang sama, ip yang sama. R1tchy. Kau menggunakan nama R1tchy sebagai nama samaranmu di dunia maya.” Madam berucap cepat. Menatapku menyelidik.
“Itu identitas palsu, menggunakan namaku sebagai senjata untuk semua kejahatan itu. Aku berani bersumpah, aku tahu orang itu. Dia adalah Einst3in. Dia bukan hanya bisa mencabut pohon sepertiku, tapi ia bisa mencabutnya beserta lahan dan rumah pemiliknya tanpa diketahui siapapun.” Aku mengangkat kepala setelah tertunduk, menjelaskan, menggenggam keras lembaran-lembaran itu. Membantingnya ke meja.
“Temukan Einst3in!” Madam memerintahku dengan nada wajah bertaruh.
“Dan kau akan membebaskanku beserta saudariku?” Aku mulai membuat taruhan.
“Tidak akan pernah, bahkan saudarimu sekalipun. Kalian adalah mafia besar yang bersekongkol hebat, aku baru dapat menyimpulkan hal ini. Kalian melakukan kejahatan-kejahatan besar di banyak negara, saudarimu tertangkap. Tapi kau, kau sungguh black hat profesional. Kau bisa lolos.”
“ITU FITNAH! Kami menggunakan satu identitas, kami melakukan hal baik melalui dunia maya, banyak orang tidak suka, lantas meretas identitas kami, mengatas-namakan kami, melakukan cybercrime di mana-mana. Polisi menganggap bahwa kami-lah pelakunya, lantas memburu kami. Hingga Saudariku tertangkap.”
“Aku berani bertaruh, aku akan menangkap Einst3in dan kau akan membebaskan kami, dia adalah aktor penting sekaligus dalang atas semua kejahatan ini.” Aku bertaruh sekali lagi, “Asal kau tahu, Madam, aku telah meretas akunmu, maaafkan aku atas hal ini, aku bisa melaporkan akunmu ke atasanmu atau bahkan melaporkannya ke CIA, dan kau akan mendapatkan hukuman berat atas tindakanmu.” Aku menyeringai, yakin dengan taruhanku.
Madam sedikit tertegun, kaget dengan perkataanku barusan. Lihatlah, Madam memasang wajah marah, menatapku tajam, sekaligus berpikir cepat untuk banyak hal, kemungkinan dan risiko yang bakal terjadi. Madam menghela napas pelan.
“Kau akan terkenal setelah menangkap buronan besar itu, kau akan menjadi orang hebat, aku yakin, Madam. Tapi jika tidak, kau tahu, kau tidak akan bisa memburu orang-orang sepertiku lagi, kau akan kehilangan pekerjaanmu, terhina banyak orang.” Aku menambahkan, meyakinkan Madam. Sekali lagi Madam menghela napas, lebih panjang.
“Baiklah, Med, kau tangkap dia, kuberi kau waktu-”.
“SEMUANYA! DARURAT, BAHAYA SEKALI, KITA HARUS SEGERA PERGI DARI SINI!” Seorang petugas berdiri tegang di pintu  ruang interogasi, memotong, berteriak kencang, ngos-ngosan, “Seseorang telah memprogram ulang dan mengaktifkan nuklir bawah tanah, waktu kita lima belas menit untuk menjauh sebelum nuklir meledak. Semua orang harus segera pergi, menjauh dari tempat ini.” Situasi berubah seratus delapan puluh derajat.
Semua orang berhamburan keluar, alarm meraung kencang, semua orang panik, semua harus segera pergi. Nuklir  di bawah gedung ini aktif kembali. Madam berlari panik hendak keluar dari ruangan.
“Tunggu, Madam!” Aku memberhentikan Madam.
“KAU MAU MATI?” Madam membalas dengan wajah sangat cemas.
Situasi semakin gaduh, jalanan kacau, suara-suara peringatan terdengar jelas, semua penduduk sekitar harus segera menjauh dari gedung kepolisian ini, sejauh-jauhnya.
“Aku bisa menyelesaikannya, jangan panik, Madam, aku tahu orangnya, aku bisa mematikan nuklirnya jika kau mau, aku butuh komputer.” Aku berkata cepat.
“Ada di lantai dua. Good luck!” Madam berteriak, berlari keluar ruangan, masih dengan wajah sangat cemas. Pergi.
Alarm terus meraung kencang dimana-mana. Aku berlari cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, mengoperasikan PC SERVER Administrator kantor ini. Aku  Berpikir sebentar untuk  banyak hal. Memang bahaya, MK 24/B-24, nuklir buatan AS yang dahulu dibeli Belanda untuk meledakkan Jakarta, namun urung –entah dengan pertimbangan apa mereka memendam nuklir itu. Sedikit sekali orang yang tahu hal ini. Kantor kepolisian? Entahlah, aku tidak tahu mengapa kantor ini didirikan tepat di atas nuklir yang terpendam  –yang masih bisa aktif kembali. Entahlah.
Aku berhasil masuk system. Aku harus menghapus jejak bukti identitasku di kepolisian ini -termasuk saudariku. Mengetikkan banyak script, meskipun ini PC SERVER Administrator, tetap  banyak yang harus dibobol. Kata kunci harus dihafal oleh seorang Admin. Berhasil.
Lima menit berlalu. Jam dinding terus berputar, membuatku lebih cemas.
Selanjutnya aku harus segera login. Alarm terus mengaung kencang, sekitaran kantor kepolisian sudah lengang, semua sudah pergi jauh-jauh, hanya tertinggal beberapa orang berlari panik. Bingung. Dan aku masih bertaruh atas hidupku, tepat di atas nuklir yang siap meledak.
“Selamat datang Med R1tchy Angel J.” Aku memandang ke layar monitor, sedikit mengerutkan dahi, Einst3in mengirim pesan kepadaku. Sial, cepat sekali dia menemukanku.
            “Kau gila, Eins! Kau benar-benar gila!” Aku membalas cepat pesan Einst3in.
 “Kau tidak punya banyak waktu, Med, pergilah jauh-jauh, aku ingin meledakkan kantor kepolisian itu, semua orang sudah pergi, bukan? Aku ingin menghapus semua jejak bukti, termasuk semua anak buahku disana, pergilah, Med!”
Aku harus berpikir cepat, menghitung situasi, tidak terlalu mempedulikan pesan barusan, aku harus segera mematikan nuklir itu, mengetikkan banyak sekali script, mencari berbagai cara.
Dua menit berlalu cepat. Waktu tersisa delapan menit sebelum ledakan dahsyat.
Tidak ada lagi yang bisa menghidupkan dan mematikan nuklir itu dengan cara manual, terlebih nuklir itu terpendam dibawah kantor kepolisian. Hanya program digital yang bisa melakukannya, mengakses dengan program yang amat sulit, bahkan tidak ada yang bisa dan berani untuk mengoperasikan lagi nuklir itu. Tapi Eins -buronan dunia itu- bisa dan berani. Kali ini aku panik, cemas, andai aku tidak bisa mematikan nuklir itu. Waktu semakin sempit.
Tujuh menit waktu tersisa.
Bingo!” Aku berhasil menemukan cara. Sangat rumit. Aku harus terhubung ke server militer Belanda. Sial. Untuk masuk ke dalam server aku harus bersusah payah, lebih rumit dari keamanan system buatan Indonesia. Bagaimana bisa Eins mengaktifkan nuklir itu?
Lima menit waktu tersisa.
Keringat mulai keluar, suhu tubuh meningkat. Aku melepas napas. Sangat rumit.
“Kau butuh bantuan, Med?” Theo, orang yang sangat antusias menangkapku datang kepadaku. Baiklah. Theo hendak duduk di depan PC di sebelahku. Aku tidak tahu persis apa tujuannya datang kepadaku. Entahlah. Anggap saja ini keberuntunganku.
“Theo, kau ambil alih posisiku, aku tahu kau ahli dalam ilmu nuklir, kau juga sangat ahli dalam bahasa mesin. Kau tinggal melanjutkan, Theo. Aku kesulitan.”
Empat menit waktu tersisa.
Aku bertukar tempat dengan Theo. Lihatlah, Theo lebih lihai mengetikkan script. Biarkan dia mematikan nuklir itu. Kali ini aku harus menangkap buronan besar itu. Login, segera melacak keberadaannya. Dimana kau Eins!
“Kau ini keras kepala, Med.” Lagi-lagi Eins mengirim pesan. Theo juga membaca pesan itu. Aku langsung menjelaskan cepat siapa orang itu, meskipun belum detail. Dia akan tahu semuanya setelah aku menemukannya. Dan kini aku sedang mencarinya, Theo hanya berucap “Temukan segera!” Baiklah.
Kami semakin tegang. Hidup adalah taruhannya. Hanya dalam hitungan menit.
Dua menit waktu tersisa.
“Ini gila, Med. Sangat rumit.” Kami semakin tegang. Aku menelan ludah untuk kesekian kalinya. “Aku yakin kau bisa, Theo!” Jari dan keyboard beradu semakin sengit.
Baiklah. Baiklah. “Bersiaplah untuk mati, Kawan!”  Einst3in tersenyum jahat disana.
Aku sedikit menengok TV besar yang tergantung di tembok. Belanda telah mendapatkan sinyal dari satelit militernya, memberikan kabar darurat kepada Indonesia. Telat.
Satu menit waktu tersisa.
Baiklah, hidup dan matiku ditaruhkan dalam waktu kurang dari satu menit.
BINGO!” Kami berdua berteriak bersamaan, ber”huh” lega. “Satu langkah lagi, kawan.”
Hitungan mundur, nuklir itu memberikan tanda suara keras. Akan terjadi ledakan dahsyat, sepuluh detik hitungan mundur. TUT. TUT. TUT. Suara yang seiring dengan hitungan detik. Keras. Aku mengetikkan script terakhir, script pamungkas. TUT.TUT.TUT.TUT.
            Tiga detik terakhir.
Aku mengirimkan beberapa file phising kepada Eins, dengan judul ‘READ ME PLEASE!’, file yang akan secara otomatis menginstal, menutup semua jalur akses komputernya, Eins harus membuka file tersebut, memang harus!. ENTER. ENTER. “BINGO!!!” File itu dibuka, memberikan banyak sekali keterangan tentang komputer yang Eins pakai. Alamat, user, dan semuanya. Kami berteriak kencang, bangga. Sangat bangga. Einst3in terlacak. Bersamaan dengan itu, Nuklir  mati. Theo telah menumpahkan script pamungkasnya. Kami melepaskan napas panjang. Lega. Sangat lega!
Kami segera memberitahu seluruh kepolisian untuk menangkap Einst3in, atas nama kepolisian pusat. Mereka segera bergegas. Menangkapnya.
“Kau memang hacker bedebah, Med! Selalu saja menggangguku.” Pesan Eins, terakhir.
“Selamat tinggal, Einst3in. Peace!” Aku juga mengirim pesan -terakhir- untuk Eins.
Suasana berangsur membaik. Lima belas menit, semua orang telah kembali ke rumah masing-masing setelah mendapatkan berita keterangan aman dari Belanda. Kepolisian juga melaporkan, pelaku sudah tertangkap. Orang-orang kantor kembali, beberapa menyalamiku, berterimakasih. Berterimakasihlah kepada Madam. Madam tersenyum bangga. Dia akan menjadi terkenal. Media akan menyiarkan, Madam adalah orang yang hebat, telah menangkap Einst3in sebagai cyber mafia besar sekaligus dalang atas semua kejahatan ini. Dia akan naik pangkat. Dan saudariku, dia akan terbebas bersamaku. Tidak ada lagi jejak bukti kejahatan atas namaku atau saudariku. Tidak ada. Tidak akan pernah lagi.
Kali ini dunia akan berterimakasih kepada Madam.
Madam mendekatiku,“Kau luar biasa, Angel. Aku tahu, kau dan saudarimu adalah hacker yang baik, memanipulasi data. Tujuan baik. Catatan terakhir yang aku dapatkan, kau berhasil membuat pemerintah Perancis membuat keputusan baru. Memberikan dana untuk pembangunan seribu pondok pesantren, panti asuhan, sekolah dan  masjid-masjid. Dana alokasi untuk gereja diputus atas catatan pelanggaran. Ternyata banyak sekali catatan baik atas identitasmu, banyak hacker yang mati berkat kau. Terimakasih, R1chy! Dunia membutuhkan kalian.”
Richy. Itu saudariku, Madam.


J -Selesai- J

1 komentar:

  1. Hai ini link aku : asanugis01.blogspot.com tolong lihat aja...........

    BalasHapus